Sabtu, 19 Januari 2013
Selasa, 18 Desember 2012
Indonesia Peringkat 63 Sebagai Negara Gagal (Failed States)
Belakangan ini, salah satu lembaga statistik dunia, Fund for Peace 2012 melansir peringkat terbaru failed states (Negara Gagal) di dunia.
Indonesia berada di peringkat 63. Kalah jauh dengan Negara tetangga Malaysia yang berada di peringkat 110 berdampingan dengan Negara di Amerika Selatan dan Afrika.
Indonesia berada di peringkat 63. Kalah jauh dengan Negara tetangga Malaysia yang berada di peringkat 110 berdampingan dengan Negara di Amerika Selatan dan Afrika.
Berikut ini nilai dan parameter yang digunakan (Indonesia) :
- Demographic Pressures : 7,4
- Refugees and IDPs : 6,3
- Group Grievance : 7,1
- Human Flight : 6,6
- Uneven Development : 7,2
- Poverty and Economic Decline : 6,0
- Legitimacy of the State : 6,7
- Public Service : 6,2
- Human Rights : 6,8
- Security Apparatus : 7,1
- Factionalized Elites : 7,0
- External Intervention : 6,2
Informasi ini sejujurnya bukan untuk menyebarkan semangat pesimisme terhadap Bangsa ini, namun sebaliknya. Jadikan innformasi ini untuk memperkuat semangat kita untuk membenahi Bangsa ini.
Sumber :
http://www.foreignpolicy.com/failed_states_index_2012_interactive
Senin, 17 Desember 2012
Tahun 2050, Indonesia Menguasai 50 Persen Ekonomi Dunia
Setelah mengalami keterpurukan saat revolusi Industri di Perancis, Asia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi di tengah krisis perekonomian dunia saat ini secara perlahan. Potensi pertumbuhan ekonomi di Asia tersebut diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa tahun yang akan datang, termasuk Indonesia. Beberapa hasil riset dan proyeksi berbagai lembaga ekonomi terutama dari luar negeri seperti IMF, McKinsey, dll membicarakan hal yang serupa.
"Ada tiga rezim yang menguasai perekonomian dunia saat ini, yaitu greater China yang di dalamnya terdiri atas China, Taiwan, Hong Kong dan Makau. Kedua adalah greater India yang terdiri dari India, Nepal, Pakistan dan Afganistan. Sementara itu, untuk Asia Tenggara yang saat ini menjadi kawasan yang mampu mempengaruhi ekonomi dunia, Indonesia menjadi satu-satunya yang memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Dari sepuluh negara yang ada, sekarang ini Indonesia menguasai 40 persen ekonomi Asia Tenggara. Jadi nantinya ada tiga rezim, yaitu greater China, India dan Indonesia," kata beliau.
International Monetary Fund (IMF) yang menyebutkan bahwa sepanjang 2012-2017 Indonesia akan memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 15,5 persen. Pada tahun 2050 Indonesia akan menguasai 50 persen ekonomi dunia, sedangkan pada 2010 Indonesia sudah tercatat menguasai 27 persen ekonomi dunia. "Pada 2050, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat setelah India, China dan Amerika Serikat (AS)," kata Chairul sembari mengatakan, saat ini lima besar ekonomi dunia ditempati AS, China, Jepang, India dan Jerman.
Chairul mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia
ditopang oleh besarnya jumlah masyarakat kelas menengah yang terus mengalami
peningkatan. Pada 2011 saja, kata dia, penduduk berpendapatan
USD3.600/kapita/tahun sudah mencapai 45 juta orang. "Dalam kurun beberapa
tahun ke depan, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5-6
persen, maka jumlah kelas menengah akan menjadi 135 juta orang," katanya.
Disatu sisi kita harus bangga dengan prestasi besar ini, namun disisi lain pemerintah harus melakukan antisipasi terhadap disparitas ekonomi di masyarakat yang masih cenderung lebar. Jika masa kebangkitan Indonesia itu datang namun tidak dibarengi persiapan yang matang, bisa jadi masyarakat kecil lah yang sekali lagi akan menjadi korban kebengisan “hukum rimba”.
Disampaikan di Seminar Nasional – Kongres IKA ELITS 2012 (Hotel Sahid Jaya Jakarta)
Disatu sisi kita harus bangga dengan prestasi besar ini, namun disisi lain pemerintah harus melakukan antisipasi terhadap disparitas ekonomi di masyarakat yang masih cenderung lebar. Jika masa kebangkitan Indonesia itu datang namun tidak dibarengi persiapan yang matang, bisa jadi masyarakat kecil lah yang sekali lagi akan menjadi korban kebengisan “hukum rimba”.
Disampaikan di Seminar Nasional – Kongres IKA ELITS 2012 (Hotel Sahid Jaya Jakarta)
Rabu, 12 Desember 2012
Saya dan PPKn / PKn / Kewarganegaraan (entah mana yang benar)
Cerita ini
merupakan pengalaman pribadi saya yang berhubungan dengan Pelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) / Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) / Kewarganegaraan (entah mana yang benar)
Ketika saya menikmati pendidikan di Sekolah Dasar (SD), pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) rasanya menjadi pelajaran yang paling mudah. Mengapa? Karena setiap kali ada persoalan, jawabannya selalu berkutat pada gotong royong, kerukunan, dan tenggang rasa. Apalagi kalau soalnya adalah pilihan ganda. Hampir dipastikan pilihan-pilihan jawaban itu pasti muncul. Terang saja saya langsung menyilang pilihan jawaban tersebut karena pilihan yang lainnya sama sekali tidak ada hubungannya sama soal. Dilematis! Memang semudah itu PPKn di tingkat pendidikan Sekolah Dasar walaupun dalam tindakan nyatanya saya belum tahu apa makna gotong royong, kerukunan, dan tenggang rasa yang sebenarnya. Ketika itu! Boleh jadi saya juga harus bangga ketika Pak Guru (kesayangan saya) menanyakan pertama kali siapa yang hafal Pancasila. Saya masih ingat kalau tidak salah ada 6 anak yang menangkat tangan dengan semangat, termasuk saya. Enam anak lucu ini akhirnya memimpin “deklarasi” Pancasila di depan kelas. Sila per sila didengungkan seisi kelas. Biasa saja, tidak menggugah hati!?
Memasuki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat mata pelajaran yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Jika kita cermati, ada perubahan dari SD ke SMA untuk penamaan mata pelajaran ini, yakni hilangnya Pendidikan Pancasila. Pada pelajaran ini lebih mengutamakan sistem demokrasi, yakni dari, untuk, dan oleh siswa. Artinya, sistem pembelajarannya lebih menekankan kepada presentasi dan diskusi. Sistem inilah yang membuat saya semangat untuk mengikuti pelajaran ini. Saya selalu menyimak presentasi yang dilakukan. Bukan karena saya ingin memahami materi, tetapi mengumpulkan data untuk membuat pertanyaan yang akan diajukan pada sesi diskusi. Alasannya sederhana, yakni ingin mendapatkan nilai dan dapat memberikan pertanyaan berbobot yang bisa membuat peserta presentasi kesulitan dalam menjawab. Hahaha.... Alhasil jelas saja, setiap sesi diskusi saya menjadi siswa yang merupakan pilihan terakhir untuk ditunjuk oleh peserta presentasi. Tetapi untungnya Pak Guru selalu memberikan saya kesempatan. Bagaimana tidak? Saya selalu ngotot untuk diberikan kesempatan memberikan pertanyaan walaupun kesempatan bertanya sudah habis. Hehehe... Terima kasih Pak. Oya, Pak Guru ini juga yang menunjuk saya untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo sebagai siswa teladan dalam ajang kompetisi siswa teladan tingkat provinsi. Bisa ditebak! Hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pantas saja lah, orang “slengekan” seperti saya kok ditunjuk sebagai siswa teladan. Tetapi mungkin Pak Guru tersebut memiliki pandangan yang berbeda.
Ketika saya menikmati pendidikan di Sekolah Dasar (SD), pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) rasanya menjadi pelajaran yang paling mudah. Mengapa? Karena setiap kali ada persoalan, jawabannya selalu berkutat pada gotong royong, kerukunan, dan tenggang rasa. Apalagi kalau soalnya adalah pilihan ganda. Hampir dipastikan pilihan-pilihan jawaban itu pasti muncul. Terang saja saya langsung menyilang pilihan jawaban tersebut karena pilihan yang lainnya sama sekali tidak ada hubungannya sama soal. Dilematis! Memang semudah itu PPKn di tingkat pendidikan Sekolah Dasar walaupun dalam tindakan nyatanya saya belum tahu apa makna gotong royong, kerukunan, dan tenggang rasa yang sebenarnya. Ketika itu! Boleh jadi saya juga harus bangga ketika Pak Guru (kesayangan saya) menanyakan pertama kali siapa yang hafal Pancasila. Saya masih ingat kalau tidak salah ada 6 anak yang menangkat tangan dengan semangat, termasuk saya. Enam anak lucu ini akhirnya memimpin “deklarasi” Pancasila di depan kelas. Sila per sila didengungkan seisi kelas. Biasa saja, tidak menggugah hati!?
Memasuki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat mata pelajaran yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Jika kita cermati, ada perubahan dari SD ke SMA untuk penamaan mata pelajaran ini, yakni hilangnya Pendidikan Pancasila. Pada pelajaran ini lebih mengutamakan sistem demokrasi, yakni dari, untuk, dan oleh siswa. Artinya, sistem pembelajarannya lebih menekankan kepada presentasi dan diskusi. Sistem inilah yang membuat saya semangat untuk mengikuti pelajaran ini. Saya selalu menyimak presentasi yang dilakukan. Bukan karena saya ingin memahami materi, tetapi mengumpulkan data untuk membuat pertanyaan yang akan diajukan pada sesi diskusi. Alasannya sederhana, yakni ingin mendapatkan nilai dan dapat memberikan pertanyaan berbobot yang bisa membuat peserta presentasi kesulitan dalam menjawab. Hahaha.... Alhasil jelas saja, setiap sesi diskusi saya menjadi siswa yang merupakan pilihan terakhir untuk ditunjuk oleh peserta presentasi. Tetapi untungnya Pak Guru selalu memberikan saya kesempatan. Bagaimana tidak? Saya selalu ngotot untuk diberikan kesempatan memberikan pertanyaan walaupun kesempatan bertanya sudah habis. Hehehe... Terima kasih Pak. Oya, Pak Guru ini juga yang menunjuk saya untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo sebagai siswa teladan dalam ajang kompetisi siswa teladan tingkat provinsi. Bisa ditebak! Hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pantas saja lah, orang “slengekan” seperti saya kok ditunjuk sebagai siswa teladan. Tetapi mungkin Pak Guru tersebut memiliki pandangan yang berbeda.
Langganan:
Postingan (Atom)

