Rabu, 12 Desember 2012

17 Agustus 1945 (SENGSARA TETAP SENGSARA!)

Yth. H Mutahar (Pencipta Lagu 17 Agustus 1945)
Saya mohon diri sekaligus memohon maaf untuk merubah sedikit lirik lagu ciptaan anda dengan melihat realita kondisi bangsa saat ini.
Semoga anda berkenan dan semoga lagu ini mampu menjadi penghantar semangat mahasiswa yang peka akan kondisi bangsanya.


TUJUH BELAS AGUSTUS TAHUN EMPAT LIMA

KATANYA HARI KEMERDEKAAN KITA

AH MASA' IYA... YANG BENAR AJA!

BUKTINYA RAKYAT KITA MASIH SENGSARA

SENG...SA...RA...!!!

SEKALI SENGSARA TETAP SENGSARA!

NYATANYA KORUPSINYA DIMANA-MANA

KITA TETAP...SETIA...TETAP SEDIA...

MEMPERTAHANKAN INDONESIA...

KITA TETAP...SETIA...TETAP...SEDIA...

MEMBELA NEGARA KITA!

(Melodi : Lagu 17 Agustus 1945)


Memori 20 Oktober 2011 - Evaluasi 2 Tahun SBY-Boediono dan 7 Tahun Pemerintahan SBY

Rabu, 26 Januari 2011

Kuliah... Seperti inikah kamu??

Pas mau semester baru.... 



Setelah minggu pertama....



Setelah minggu kedua....




Sebelum UTS.....




Pas UTS....




Setelah UTS....




Sebelum UAS....



Jumat, 31 Desember 2010

Bolehkah Merayakan Tahun Baru? (sudut pandang seorang muslim)

Tahun Baru (Masehi) Bukanlah Hari Raya Islam 
Seorang muslim hendaklah mengetahui bahwa tahun baru (masehi) bukanlah hari raya Islam. Tahun baru bukanlah salah satu hari raya Islam sebagaimana Idul Fithri dan Idul Adha. Jika kita melirik pada sejarah umat Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in ataupun ulama-ulama madzhab semacam Imam Asy Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad; kita akan jelas mengetahui bahwa tahun baru bukanlah hari raya Islam sama sekali. Tidak ada satu orang pun dari generasi terbaik umat ini yang merayakannya. Lalu pantaskah kita sebagai seorang muslim menganggap baik merayakan tahun baru? Cukuplah perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut menjawab pertanyaan di atas.

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11) Berarti yang tidak mereka lakukan, lalu dilakukan oleh orang-orang setelah mereka adalah perkara yang jelek. Maka begitu pula halnya kita katakan pada perayaan tahun baru. Seandainya perayaan tersebut adalah baik, tentu para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya.

Perlu diketahui pula bahwa merayakan semacam ini juga berarti telah meniru-niru orang kafir. Karena kita ketahui bersama bahwa budaya perayaan ini adalah budaya mereka, orang barat yang kafir, tidaklah pantas seorang muslim meniru-niru mereka. Ingatlah bahwa suri tauladan dan panutan kita telah memberi wejangan kepada kita,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Inilah dampak yang sangat besar yang menyerang aqidah dan akhlak seorang muslim. Selanjutnya kita akan melihat dampak negatif lainnya.

10 Dampak Negatif Merayakan Tahun Baru (Masehi) 

Rabu, 10 November 2010

Soe Hok Gie; Dalam Sebuah Surat

Dhan, apa kabar Indonesia kini? Ramai kukira, kudengar sedang ramai bicara kerbau. Kenapa memangnya? Sudah lama saya tidak mendengar tanah kelahiran saya. Ah ya, kemarin saya bertemu dengan Gus Dur, orang baik, ia menyenangkan,  aku dan Ahmad Wahib ketawa terpingkal dibuatnya. Ah jika aku bertemu dengannya sejak lama mungkin aku tobat jadi atheis. Hehehehe tapi aku tau kau takan percaya. Gus ini anak kyai rupanya, banyak ia bercerita tentang islam dan yang bukan islam. Rupa-rupanya ia tahu aku gak percaya tuhan barangkali. Aku sebenarnya iri melihat dia. Dia telah tenang dalam Tuhannya. Dia sudah bersatu dengan Tuhannya.  Katanya ia pernah jadi presiden, 2 tahun lantas ia bosan lalu diberhentikan. Oleh DPR katanya, yang ia tuduh mirip Taman Kanak-Kanak. Aku dan Wahib sekali lagi keras tertawa.